Skip to main content

Migrain

Dulu ketika SD, saya pernah ikut ke rumah sakit mengantar ibu check up paska kecelakaan. Di beberapa sudut banyak sekali slogan-slogan kesehatan. Ada satu slogan yang membuat saya tertarik pada waktu itu. Tulisannya kurang lebih menjelaskan bahwa migrain diderita lebih banyak oleh wanita.
Tulisan tersebut membuat saya tertarik karena teman SD saya sering menceritakan bahwa migrain yang sering dirasakannya adalah keturunan dari mamahnya. Pada waktu itu pun saya tidak terlalu mengerti apa itu migrain dan bagaimana rasanya. Di slogan tersebut hanya tertulis "sakit kepala sebelah". Jangankan sakit kepala sebelah, di usia SD, seingat saya, saya belum pernah tahu rasanya sakit kepala.
Ternyata itu hanya seperti sebuah perjumpaan pertama saya dengan migrain. Saya tidak pernah menyangka bahwa ketertarikan saya dengan slogan migrain tersebut di antara slogan-slogan di rumah sakit pada waktu itu adalah "pesan" bahwa di kemudian hari saya akan merasakannya. Yap, seingat saya mulai dari SMA sampai sekarang, saya seolah "langganan" migrain. Semakin ke sini migrain yang saya alami justru semakin sering. Pada waktu kuliah saya merasakan pertama kali migrain sampai muntah-muntah. Tetapi sekarang saya anggap itu sudah biasa. 
Setidaknya sampai saya menulis ini, tidak pernah saya melewatkan satu tahun terakhir tanpa migrain tiap bulannya. Saya merasakan migrain terutama di masa sebelum, saat, ataupun sesudah datang bulan. Setelah googling ke sana kemari, saya dapatkan istilah menstrual migraine. Tetapi migrain yang saya alami kadang juga datang di luar masa datang bulan itu. Dan faktor yang bisa saya dapatkan rata-rata sama: stress, asupan makanan, gaya hidup, coklat, dsb.
Anehnya tidak ada satupun sumber yang berani mengatakan dengan lantang bahwa penyebab migrain adalah A, B, dan C. Sumber-sumber yang saya baca tidak pernah memuaskan saya tentang penyebab-penyebab migrain.
Hal yang menggelikan lagi, tidak satupun sumber yang berani menyebutkan obat migrain adalah A, B, dan C. Rata-rata sumber menyebutkan dengan diiringi kata "diduga", "disinyalir", "dipercaya". Whew, I've got enough with this. Kalau boleh saya share, saya selama ini selalu menggunakan obat jenis analgesik untuk mengatasi migrain yang menurut sumber-sumber tidak jelas bisa benar-benar disembuhkan atau tidak. Analgesik biasanya dipakai untuk pereda rasa sakit dan jika saya minum ini ketika migrain, 70% selalu berhasil. Namun untuk beberapa kali, analgesik tidak mampu membantu apapun untuk mengusir nyut-nyutan sebelah yang sangat menganggu ini. Jika sudah sangat parah, bayangkan saja saya harus bolak-balik ke kamar mandi untuk muntah-muntah atau istilah nausea.
Nah, karena langganan migrain, saya juga jadi langganan analgesik yang kita semua tahu kecanduan obat itu pasti tidak bagus. Sampai sebelum menikah, saya pasti selalu mengatasi migrain dengan analgesik. Tetapi setelah menikah, saya mencoba untuk tidak sembarangan minum obat kalau sakit. Maklum, saya jaga-jaga kalau ada jabang bayi.
Satu bulan pertama saya setelah menikah saya mengalami mens. Dan sesuai janji saya, saya tidak menggunakan obat sama sekali. Alhasil migrain saya rasakan selama 3 hari dan dalam hari-hari itu aktivitas saya sangat terganggu. Saya bingung dan seperti sakau analgesik tetapi saya tetap tidak menegak satu obat pun. Akhirnya yang saya lakukan adalah kerokan dan pijat. Ternyata hasilnya lumayan dan setelah kerokan dan pijat itu saya merasa enakan. Setidaknya setelah itu rasa migrain berangsur hilang setelah 12 jam.
Saya tidak tahu apakah migrain ini masih akan datang di hari-hari ke depan. Tapi there's nothing I can do other than live with it. Semoga someday bisa sepenuhnya hilang. Saya dengan rekan kerja saya ada yang vertigonya hilang dengan akupuntur tetapi saya belum berani mencobanya. Setelah ini saya akan coba googling tentang akupuntur untuk beragam sakit kepala. :)

Comments

Popular posts from this blog

Menjadi Pribadi yang Merdeka Secara Emosional

  Bab buku-buku dan video yang saya renungkan awal pekan ini secara serempak mengarah pada tema "mengampuni dan membebaskan diri dari ikatan emosional". Menjadi pribadi yang merdeka. Inner peace. Mungkin kebetulan, mungkin algoritma. Entahlah. Renungan ini saya bagikan karena dengan berbagi, saya menerima lebih banyak untuk pertumbuhan saya sendiri.   Kita acapkali terjebak dalam dalam ikatan syarat "jika".    Aku bahagia jika anakku bisa bermain musik.  Aku senang jika rumahku rapi dan bersih.  Aku merasa cukup jika gajiku cukup untuk mencukupi kebutuhanku.   Tanpa sadar, jika kondisi di belakang kata "jika" tidak terpenuhi, yang terjadi adalah negasi dari luapan sukacita tadi.   Suamiku tidak mendukungku, aku tidak bahagia. Anakku tidak diterima di PTN terbaik, aku kecewa berat. Dia tidak mengikuti aturan yang sudah kubuat, aku sangat kesal.   Sukacita kita terikat syarat. Ini berdampak pada inner peace kita se...

The World to You

That’s the time when everything turns to yellow… You don’t know where the place you need to go.. The world is cruel… As cruel as hunger tiger… As cruel as 77 years drought... Never let you survive with smile... Often makes you take a revenge.. The world is so cruel... But please, don’t change yourself dear.. You’re so worthwhile... You are priceless.. The world may be cruel.. But you, dear… Never born to be…

First, trust God, the rest is do your best.

Di saat kita putus asa, kita baru lari ke Tuhan dan berusaha mengandalkan Tuhan. Padahal, seharusnya Tuhan diandalkan sejak awal, bukan di saat-saat kita sudah putus asa. Kita sering dengar kutipan, "Do your best, let God do the rest." Aku ingin membalik sedikit, "Trust in God in the first place, the rest is do your best." Jangan mencari-cari Tuhan dan mengandalkan Tuhan di saat-saat akhir, carilah DIA sejak awal dan andalkanlah DIA terus sampai akhir.