Skip to main content

Pengalaman Langganan Netflix

Mungkin nama besar Netflix sudah tak asing lagi di telinga kita. Ya, Netflix adalah perusahaan penyedia layanan tontonan film-film series maupun film-film yang pernah masuk box office dengan sistem dalam jaringan (online). Kita akan lebih familiar dengan istilah streaming. Kalau dulu kita banyak pergi ke persewaan VCD/DVD, nah, Netflix ini konsepnya sama tetapi sistemnya online. Kita bebas memilih film apa saja yang hendak kita tonton dan kapan pun kita mau tonton. Bedanya, tentu tontonan online ini lebih banyak dan lebih 'tak terbatas'. Konsep 'menyewa' film-film sesuai kemauan kita secara online ini kemudian lebih populer disebut VOD (video on demand). Bayangkan saja, ketika ingin menghabiskan satu season House of Cards dalam sehari, kita tinggal memastikan bahwa kita memiliki koneksi internet yang cukup (maklum di Indonesia masih ada internet berbasis kuota 😂). Pertanyaannya, meskipun konsep persewaan VCD/DVD sudah hampir mati, bukankah masih banyak penyedia layanan TV kabel yang memungkinkan kita menonton seperti ini? Betul. Akan tetapi, TV kabel terbatas dengan jadwal, jadi kita hanya menonton seperti jadwal mereka, meskipun untuk tayangan-tayangan yang baru akan meluncur (premier) memang TV kabel lebih terdepan. Sisanya, kita hanya akan menonton film yang diulang-ulang.
Wah pendahuluannya terlalu panjang ya? Baiklah saya akan cerita pengalaman selama berlangganan Netflix. Seperti halnya perusahaan VOD lainnya, Netflix juga memberi 1 bulan gratis masa percobaan. Waktu itu saya mendaftar menggunakan kartu kredit, dan karena puas dengan kontennya, saya putuskan untuk lanjut berlangganan setelah masa percobaan habis. Saya berlangganan yang basic dengan IDR 108,000 per bulan. Satu akun hanya bisa dibuka dengan satu PC. Kekurangan Netflix yang saya rasakan adalah jumlah konten yang masih dibatasi di Asia. Bahkan kalau memakai VPN pun, jika akun kita masih teridentifikasi Indonesia maka konten film yang akan kita tonton tidak akan sebanyak US (ya iyalah). Namun pada waktu itu saya sempat menemukan semacam kejanggalan, karena ketika saya membuka dengan VPN US, beberapa tayangan dibatasi, tetapi ketika membuka dengan aplikasi di smartphone (yang sepertinya juga belum saya update) justru beberapa film yang dibatasi tersebut bisa muncul 🤗. Nah, itu keuntungan saya pada waktu itu untuk terus menonton acara favorit saya: Skins. Oia, meskipun saya mengatakan tentang konten yang dibatasi di Asia, jangan lalu berpikiran sisa jumlah konten lain yang bisa ditonton menjadi sedikit ya. Netflix masih memiliki banyak koleksi untuk ditonton, apalagi dia punya original production series seperti House of Cards dan Orange is the New Black. Overall, saya puas dengan Netflix, dan berharap Menkominfo tidak campur tangan di ranah pribadi ini 😖. Untuk subtitle, ketik saya masih langganan, Netflix belum memiliki subtitle Bahasa Indonesia, tapi saya yakin Bahasa Inggris sudah banyak yang mahir, ya kan? Dan karena kontennya memang lebih banyak, dia memang lebih mahal dibanding penyedia VOD lain yang sudah masuk di Indonesia. Sementara saya sedang unsubscribe karena urusan pribadi (bukan karena kecewa dengan Netflix ya). Dan saya tahu di Indonesia masih agak susah untuk orang mau dengan sesuatu yang berbayar. Tetapi jika kita gemar menonton, daripada repot-repot mengunduh konten ilegal dan masih harus memiliki HD tambahan, mengapa tidak berlangganan vod saja dan tinggal menginstall aplikasinya, lalu menonton apapun kapanpun (selama ada koneksi internet yang cukup ya, tetep).

Comments

Popular posts from this blog

Menjadi Pribadi yang Merdeka Secara Emosional

  Bab buku-buku dan video yang saya renungkan awal pekan ini secara serempak mengarah pada tema "mengampuni dan membebaskan diri dari ikatan emosional". Menjadi pribadi yang merdeka. Inner peace. Mungkin kebetulan, mungkin algoritma. Entahlah. Renungan ini saya bagikan karena dengan berbagi, saya menerima lebih banyak untuk pertumbuhan saya sendiri.   Kita acapkali terjebak dalam dalam ikatan syarat "jika".    Aku bahagia jika anakku bisa bermain musik.  Aku senang jika rumahku rapi dan bersih.  Aku merasa cukup jika gajiku cukup untuk mencukupi kebutuhanku.   Tanpa sadar, jika kondisi di belakang kata "jika" tidak terpenuhi, yang terjadi adalah negasi dari luapan sukacita tadi.   Suamiku tidak mendukungku, aku tidak bahagia. Anakku tidak diterima di PTN terbaik, aku kecewa berat. Dia tidak mengikuti aturan yang sudah kubuat, aku sangat kesal.   Sukacita kita terikat syarat. Ini berdampak pada inner peace kita se...

The World to You

That’s the time when everything turns to yellow… You don’t know where the place you need to go.. The world is cruel… As cruel as hunger tiger… As cruel as 77 years drought... Never let you survive with smile... Often makes you take a revenge.. The world is so cruel... But please, don’t change yourself dear.. You’re so worthwhile... You are priceless.. The world may be cruel.. But you, dear… Never born to be…

First, trust God, the rest is do your best.

Di saat kita putus asa, kita baru lari ke Tuhan dan berusaha mengandalkan Tuhan. Padahal, seharusnya Tuhan diandalkan sejak awal, bukan di saat-saat kita sudah putus asa. Kita sering dengar kutipan, "Do your best, let God do the rest." Aku ingin membalik sedikit, "Trust in God in the first place, the rest is do your best." Jangan mencari-cari Tuhan dan mengandalkan Tuhan di saat-saat akhir, carilah DIA sejak awal dan andalkanlah DIA terus sampai akhir.