Aku pernah memiliki teman semasa SMP dulu yang memiliki kecenderungan overthinking untuk setiap hal bahkan sejak ia kecil. Tentu saja saat itu aku belum mengerti akan semua istilah ini. Tetapi satu hal, bahwa aku dan teman-temanku lain sudah begitu memahami rekan kami yang satu itu. Ketika sedang memikirkan sesuatu secara berlebihan, dia akan mengulang-ulang ceritanya dan kadang hingga menangis karena merasa putus asa dan seperti tidak ada solusi akan permasalahannya. Pernah suatu kali kuku kakinya tumbuh tidak normal dan menusuk daging jempolnya. Ia merasa kesakitan dan terus-menerus bertanya apa yang menyebabkan rasa sakit itu. Mungkin hampir sampai 2-3 hari ia mengeluhkan sakit kakinya itu sampai akhirnya ia menemui dokter dan akhirnya menceritakan kalau kuku jempol kakinya dicabut karena tumbuh ke samping. Di lain waktu dia pernah datang ke sekolah dan menangis tersedu-sedu dan kami teman-temannya mencoba menenangkan sambil penasaran apa yang menyebabkan dia mengawali hari dengan mood yang tidak karuan. Sampai ia tenang kemudian ia menceritakan bahwa salah satu anak kucingnya tak mau makan. Aku dan teman-temanku yang lain lalu menunjukkan ekspresi yang tak berbeda yakni lega bercampur geli menahan tawa karena ia menangis sampai sesenggukan untuk anak kucingnya yang tak mau makan itu. Tetapi melihat kami yang tidak jadi khawatir, dia pun agak tertawa sambil masih menangis seperti berhasil mempermainkan kami tetapi dia sendiri masih khawatir.
Masih banyak pengalaman-pengalaman overthinking lain tentang temanku yang satu itu. Kadang terasa menyebalkan tapi seringkali lucu karena tahu ada hal-hal yang tak terduga seperti anak kucingnya yang tak mau makan itu. Di masa itu aku sampai tak habis pikir mengapa ada orang seperti dia yang setiap hal haruslah mendapat tempat untuk dipikirkan bahkan dalam porsi yang banyak. Mengapa dia tak bisa membawa santai satu dua hal dan fokus pada masalah-masalah yang penting saja (bahkan kami saat itu masih SMP dan tentu belum banyak masalah hidup).
Tetapi ternyata itu hanya sinyal kehidupan dan kadang aku merasa bahwa aku kualat padanya. Aku tumbuh menjadi sosok yang suka berpikir berlebihan dan mencemaskan suatu secara terus-menerus di kehidupan dewasaku. Bedanya, aku biasanya memendam dan hanya sekali dua kali menceritakan kepada orang yang aku percaya yang biasanya ditanggapi tanggapan yang sama yang kuberikan pada teman SMPku dulu, "Yaelah, begitu doang." Sisanya aku akan malas lagi bercerita dan memilih berkutat dengan pikiranku serta kadang menangis.
Aku memutuskan untuk mengambil cuti hamil sekitar sebulan sebelum HPL. Aku mempersiapkan untuk bisa lahir spontan di rumah dengan ibuku. Aku khawatir jika aku terlalu lama di Jakarta maka saat kontraksi aku terpaksa harus di rumah sakit sana yang artinya kesempatan untuk melahirkan gratis pun sirna. Hahaha. Bahkan jika harus operasi pun, aku masih bisa mendapat keringanan di Semarang karena terdaftar BPJS di sini. Pikirku, aku sudah cukup mengeluarkan banyak biaya untuk periksa kehamilan di instansi-instansi medis dan segala biaya hidup di Jakarta maka aku ingin di saat-saat terakhir sebelum keluar, setidaknya biaya anakku tak sebanyak seperti ketika aku di Jakarta.
Ketika aku pulang aku mencoba menenangkan diri dan hanya fokus pada kelahiran anakku. Aku membantu ibu memasak, kadang membersihkan rumah, sisanya kupakai untuk membaca dan memainkan smartphone. Akan tetapi ketenangan itu pun tidak aku dapatkan setelah aku periksa USG di salah satu klinik di sini. Pada minggu ke-35, posisi janin atau bayiku dinyatakan masih oblique. Aku tidak tahu bahasa kebidanan yang bagaimana itu tetapi yang jelas, kepala anakku belum masuk panggul. Secara segi perkembangan, dia sehat dan sempurna, hanya masalah posisinya saja, meski itu artinya adalah adanya kemungkinan untuk hambatan lahir spontan nantinya. Aku pulang antara senang melihat foto 4D bayiku tetapi juga mulai mencemaskan akankah aku diijinkan untuk lahir spontan nantinya. Dan dari semua ini tentu saja bisa tertebak bahwa kecemasanku lebih mendominasi daripada rasa bahagiaku.
Selama dua minggu sebelum akhirnya periksa lagi, kucoba untuk mengikuti saran dokter untuk jalan-jalan, dan aktivitas jongkok berdiri atau senam (yang bisa aku lihat di Youtube). Dan aku sering memilih untuk WC jongkok di rumah meskipun ada WC duduk. Dalam usahaku itu, ternyata suasana di rumah juga tak membuat aku tenang sepenuhnya. Mungkin memang sudah waktunya masa ini, kehamilanku yang semakin besar memberi lebih ketidaknyamanan bahkan untuk sekedar tidur. Duduk terlalu lama membuat punggungku pegal dan tidur pun terasa sesak. Belum lagi aku harus merasa kegerahan dan beberapa kali harus masuk angin karena terlalu banyak memakai kipas angin. Bahkan untuk munculnya beberapa selulit di perutku, yang tadinya kupikir tak akan berpengaruh pada diriku ternyata salah. Aku pada akhirnya memikirkannya, menjadi seorang calon ibu yang takut akan bentuk badanku dan kulitku yang tidak indah lagi paska hamil nanti. Aku terpaksa harus banyak berkutat dengan overthinking-ku untuk setiap hal. Meskipun aku tahu ini semua pengaruh hormon juga. Tidak mudah untuk merasa rileks dan beberapa pendapat orang lain pun lebih membuat aku cemas daripada tercerahkan secara pengetahuan.
Setelah dua minggu berlalu, aku kembali mengunjungi dokter yang sama. Aku berharap bahwa posisinya kini lebih baik. Akan tetapi justru informasi terbaru semakin mencemaskanku. Posisi kepala anakku dikatakan mendongak atau istilahnya defleksi. Berat badan bayiku pun di usia 37 minggu naik menjadi 3.2 kilo menurut ukuran mesin USG padahal dua minggu sebelumnya baru 2.4 kilo. Aku semakin dibuat tak menentu akan kemungkinan aku harus lahiran caesar karena posisi kepala bayi defleksi beresiko patah jika dipaksakan normal ditambah informasi bahwa berat badan bayiku juga terlihat terlalu berat untuk usia 37 minggu (apa kabar kalau dia lahir di usia 40 minggu?).
Hanya diam dan tertegun dengan semua informasi ini, bahkan ibuku sepertinya malah menyerahkan kalau aku harus masuk meja operasi. Aku tak begitu tahu pasti mengapa aku begitu kecewa. Mungkin karena aku berharap lahir spontan tetapi malah mendapat informasi begini. Malam setelah USG aku menangis dan pikiranku macam-macam. Aku mulai menyalahkan keadaan, mulai kecewa dengan bayiku sendiri mengapa dia tidak memberikan kemudahan di akhir, bahkan setelah di awal aku sudah flek berkali-kali. Di sisi lain aku takut kalau perasaanku yang tak karuan ini akan menjadi sumber baby blues jika aku sudah melahirkan nanti.
Di saat seperti ini, aku merasa begitu butuh dekat dengan suamiku. Tak ingin bicara apapun, hanya ingin dekat dengan dia saja. Tetapi pikiranku macam-macam, bahkan aku kadang merasa iri kalau dia begitu mendambakan anak dalam kandunganku sementara aku masih dalam suasana hati yang tak menentu. Seolah-olah aku tak diinginkan dan hanya diminta untuk melahirkan anakku ini saja. Tangisku kadang pecah dalam heningku sebelum tidur. Aku pun kadang khawatir jika aku terlalu bersedih, akankah anakku nanti bisa selalu bahagia? Semua ini terlihat berlebihan dan aneh-aneh saja tetapi ternyata aku harus mengalaminya. Kadang dalam kesadaranku, aku memperingatkan diriku sendiri bahwa semua ini akan berlalu dan tidak perlu diperlakukan secara berlebihan karena ibu hamil sangat wajar jika mengalami keresahan yang berlebihan.
Pagi setelah aku menangis karena hasil USG, aku lebih segar dan aku melakukan aktivitas seperti biasa. Setelah memasak, aku bilang kepada ibuku bahwa aku akan makan sekali saja karena takut anakku akan terlalu besar. Tetapi ibuku mengerti kecemasanku dan langsung mengukur dan memperkirakan berat badan anakku secara manual (pegangan bidan). Ibuku bilang anakku belum ada 3.2 kilo dan dia meminta aku percaya padanya karena sering mesin USG pun salah. Dia memperkirakan anakku masih 2.7 kilo. Aku mencoba percaya kepadanya dan kami akan periksa di klinik bidan desa dekat rumah untuk USG lagi demi mencari second opinion.
Saat ini perasaanku masih netral kembali, semoga di USG dengan dokter yang berbeda bisa memberi aku ketenangan. Aku berharap anakku pun mau bekerja sama denganku agar kami bisa melewati semua ini bersama dengan baik dan lancar.
Comments
Post a Comment