Skip to main content

Kehamilan Pertama Part 5: Membangun Kekuatan di Rumah

Saat aku lulus SMA, aku bertekad untuk jauh dari orang tua. Aku tidak menetapkan target apapun, entah itu target menjadi mandiri atau hal lain. Waktu itu yang aku pikirkan hanya: aku bosan 18 tahun di kota yang sama dan mungkin akan mendapatkan teman-teman kuliah dari pertemanan sekolahku. Aku sempat ingin kuliah di Surabaya atau Jakarta tetapi orang tuaku tidak mengijinkan dengan alasan biaya kecuali aku masuk sekolah pemerintah seperti STIS atau STAN. Pada akhirnya aku diijinkan melanjutkan kuliah di Jogjakarta.
Pengalaman pertama lepas dari orang tua rasanya memberi euphoria kebebasan yang tidak aku rasakan sebelumnya. Aku bebas pulang malam, aku bebas pergi ke mana pun. Dan setelah kurenungkan, selama 4.5 tahun aku di Jogja, aku jarang pulang ke Semarang padahal jarak rumah hanya 3 jam. Aku lebih sering menghabiskan waktu ikut kegiatan ini itu sehingga aku hanya pulang 3 bulan sekali. Orang tuaku juga rajin mengirim uang sehingga aku lebih jarang lagi pulang. Yah begitulah masa-masa yang pernah aku lewati sebagai anak kuliah. Begitu bebas dan tercukupi. Aku belum sampai tingkat di mana aku harus memikirkan mengambil pekerjaan paruh waktu untuk menambah uang jajan atau pun menambah pengalaman.


Pengalaman adalah guru yang terbaik. Selama aku jatuh bangun di Jakarta, aku seperti dibukakan mata akan kehidupan yang sebenarnya. Gajiku yang tak seberapa harus aku tabung demi masa depan. Aku pun harus berhadapan dengan tingginya biaya hidup di kota ini. Tak jarang, hasrat untuk hang out dan makan makanan mahal muncul. Tetapi sekali lagi aku harus mengencangkan ikat pinggang karena biaya hidup sehari-hari sudah mahal, dan jika aku tak menahan nafsu untuk nongkrong maka aku tak akan bisa menabung. Tentu ini berbeda dengan ketika aku di Jogja, by the way, sangat tidak pas sebenarnya jika aku membandingkan langsung dengan Kota Pelajar itu. Biaya sehari-hari di sana sangat terjangkau sehingga jika mau sering nongkrong pun masih sanggup. Sangat jauh berbeda. Di sisi lain aku pun kadang merasakan stres karena kemacetan, dan hiburan yang hanya berupa mall di Jakarta. Hampir tiap orang stres di sini akan ke mall dan berbelanja atau sekedar menikmati hang out dengan rekan-rekan. Tarik ulur seperti ini membuatku sering goyah tetapi mantan pacarku yang kini suamiku selalu mendukungku untuk bisa hidup sesederhana mungkin di sini. Dukungan ini bahkan sering berujung cekcok karena masih ada sisi ketergantunganku pada orang tua dan sisi hedonisku.

Pemulihanku
Semua pengalaman ini sebenarnya tak jauh-jauh dari sebuah perjalanan seseorang menemukan titik balik atas hidupnya. Kesulitan yang tidak seberapa itu tetapi sudah membuat aku lebay ternyata membuat aku sadar akan diriku yang keras dan sering susah diatur oleh orang tuaku. Saat-saat seperti ini aku begitu membutuhkan mereka. Dan aku bersyukur orang tuaku masih ada ketika aku merasa sudah tidak bergairah di masa-masa hamil mudaku. Aku begitu ingin dekat ibu dan bapakku ketika di rumah. Berulang kali aku menangis membayangkan jika mereka tidak ada di saat-saati itu.
Ibuku dengan sabar dan masih sama dengan ibu yang aku miliki dulu ketika aku sekolah, selalu berusaha membantuku. Beliau memasak bahkan mencuci bajuku. Kasih ibu memang sepanjang masa. Jika kuiingat lagi seringkali aku menyakiti hati ibu dan bapakku, rasanya aku ingin membenturkan kepala ke batu. Tapi ya sudahlah, aku jadikan semua itu pembelajaran dan titik balik untuk kembali membangun komunikasi yang baik dengan mereka meskipun aku baru menyadarinya di usiaku yang ke 26.
Selama kurang lebih tiga minggu aku berada di rumah untuk memulihkan dan menjaga kehamilanku. Udara di desa serasa memberi semangat lebih kepadaku. Tak jarang aku merasa malas kembali ke Jakarta karena harus mengingat betapa kehidupan begitu keras dan susah ditaklukan. Namun ibuku justru berusaha membangun hatiku. Beliau tak ingin aku sebagai wanita pada akhirnya tidak bekerja dan hanya mengurus anak. Kata-kata beliau yang selalu aku ingat adalah, "Wanita sebisa mungkin bekerja, karena suatu saat tiba ketika kita merasa tidak berguna." Kadang ada hal-hal yang tidak bisa kucerna mengapa ibuku mengatakan demikian. Tetapi aku pernah merasakannya sesaat ketika hamil mudaku. Ketika harus berada di kontrakan terus dan tidak melakukan apa-apa, rasanya seperti tidak berguna. Aduh bu, mengapa kau warisi perasaan yang seperti ini. Hihihi.
Lalu segala hal yang aku habiskan di rumah sungguh membangun fisikku. Selama di rumah aku tidak pernah flek lagi. Namun mual dan muntah masih kurasakan. Tak jarang aku merasa pusing. Namun perasaanku tenang karena dekat dengan ibu bapak.
Ketika aku kembali ke Jakarta sudah tak bisa dipungkiri drama terjadi. Aku kembali menangis dan ibuku pun menangis. Ini juga tak hanya karena aku hendak kembali ke Jakarta tetapi karena sepupuku yang biasanya berada di rumah menemani ibuku pun sudah sebelumnya berangkat dan pamit untuk berkarya untuk dunia kesehatan. Aku sungguh kasian dan ingin dekat dengan ibu bapak karena mereka kembali berdua saja. Tetapi aku juga harus kembali ke kehidupan dan mencari nafkah untuk anakku. Semoga aku mampu belajar dari kekuatan ibu bapakku meskipun aku tak akan mampu sekuat mereka. Semoga aku bisa berjuang untuk anakku nanti. Sampai jumpa lagi kotaku, desaku, aku bertekad untuk melahirkan anakku padamu.

Comments

Popular posts from this blog

Menjadi Pribadi yang Merdeka Secara Emosional

  Bab buku-buku dan video yang saya renungkan awal pekan ini secara serempak mengarah pada tema "mengampuni dan membebaskan diri dari ikatan emosional". Menjadi pribadi yang merdeka. Inner peace. Mungkin kebetulan, mungkin algoritma. Entahlah. Renungan ini saya bagikan karena dengan berbagi, saya menerima lebih banyak untuk pertumbuhan saya sendiri.   Kita acapkali terjebak dalam dalam ikatan syarat "jika".    Aku bahagia jika anakku bisa bermain musik.  Aku senang jika rumahku rapi dan bersih.  Aku merasa cukup jika gajiku cukup untuk mencukupi kebutuhanku.   Tanpa sadar, jika kondisi di belakang kata "jika" tidak terpenuhi, yang terjadi adalah negasi dari luapan sukacita tadi.   Suamiku tidak mendukungku, aku tidak bahagia. Anakku tidak diterima di PTN terbaik, aku kecewa berat. Dia tidak mengikuti aturan yang sudah kubuat, aku sangat kesal.   Sukacita kita terikat syarat. Ini berdampak pada inner peace kita se...

The World to You

That’s the time when everything turns to yellow… You don’t know where the place you need to go.. The world is cruel… As cruel as hunger tiger… As cruel as 77 years drought... Never let you survive with smile... Often makes you take a revenge.. The world is so cruel... But please, don’t change yourself dear.. You’re so worthwhile... You are priceless.. The world may be cruel.. But you, dear… Never born to be…

First, trust God, the rest is do your best.

Di saat kita putus asa, kita baru lari ke Tuhan dan berusaha mengandalkan Tuhan. Padahal, seharusnya Tuhan diandalkan sejak awal, bukan di saat-saat kita sudah putus asa. Kita sering dengar kutipan, "Do your best, let God do the rest." Aku ingin membalik sedikit, "Trust in God in the first place, the rest is do your best." Jangan mencari-cari Tuhan dan mengandalkan Tuhan di saat-saat akhir, carilah DIA sejak awal dan andalkanlah DIA terus sampai akhir.