Skip to main content

Kehamilan Pertama Part 6: Tendangan Surga



Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jaman…
Aku tidak tahu bagaimana pengalaman setiap orang berkenaan dengan ungkapan tersebut tetapi setidaknya untukku, hal itu benar. Seumur hidupku sampai aku telah menikah saat ini, aku baru merasakan kemarahan ibuku 3 kali. Kemarahan yang aku maksud di sini bukan omelan tetapi sungguh rasa marah. Kalau hanya omelan rasanya wajar sekali orang tua melakukan itu supaya anak selalu ada dalam didikannya. Namun untuk ukuran segala pemberontakan dan kekasaran omongan-omonganku selama 20-an tahun, 3 kali marah adalah angka yang sangat kecil. Itu yang menjadi salah satu tolak ukurku tentang kasih ibuku. Sedurhakanya aku, beliau masih sesabar itu. Kasihnya sepanjang jalan. Mungkin sesayang itu seorang ibu jika sudah memiliki anak
Kehamilanku adalah proses refleksi tersendiri untukku. Aku tidak selalu diliputi kebahagiaan seperti layaknya orang-orang yang menanti anaknya. Ada kalanya aku sedih atau pun stres karena satu dan lain hal. Tetapi ketika proses berjalan, aku begitu ingin bersyukur aku mengalami masa down maupun up dalam kehamilanku ini.
Salah satu hal yang membuat aku bertabur rasa bahagia adalah ketika aku merasakan pertama kali tendangan surga. Tendangan yang berasal dari dalam perutku sendiri. Meskipun masih usia 4-5 bulan, kadang aku bisa melihat di permukaan kulit perutku bergerak-gerak. Setiap hari aku merasakannya memberi tahuku bahwa dia di dalam aku. Setiap kali bangun tidur, makan, bersantai, dia selalu mengingatkanku bahwa dirinya ingin diajak berkomunikasi juga. Anakku adalah pelajaran hidup bagiku. Dia yang akan mendewasakanku menjadi seorang ibu. Tentu aku tidak akan sebaik ibuku tapi aku berharap bisa menjadi ibu dan teman bagi anakku.

Comments

Popular posts from this blog

Menjadi Pribadi yang Merdeka Secara Emosional

  Bab buku-buku dan video yang saya renungkan awal pekan ini secara serempak mengarah pada tema "mengampuni dan membebaskan diri dari ikatan emosional". Menjadi pribadi yang merdeka. Inner peace. Mungkin kebetulan, mungkin algoritma. Entahlah. Renungan ini saya bagikan karena dengan berbagi, saya menerima lebih banyak untuk pertumbuhan saya sendiri.   Kita acapkali terjebak dalam dalam ikatan syarat "jika".    Aku bahagia jika anakku bisa bermain musik.  Aku senang jika rumahku rapi dan bersih.  Aku merasa cukup jika gajiku cukup untuk mencukupi kebutuhanku.   Tanpa sadar, jika kondisi di belakang kata "jika" tidak terpenuhi, yang terjadi adalah negasi dari luapan sukacita tadi.   Suamiku tidak mendukungku, aku tidak bahagia. Anakku tidak diterima di PTN terbaik, aku kecewa berat. Dia tidak mengikuti aturan yang sudah kubuat, aku sangat kesal.   Sukacita kita terikat syarat. Ini berdampak pada inner peace kita se...

The World to You

That’s the time when everything turns to yellow… You don’t know where the place you need to go.. The world is cruel… As cruel as hunger tiger… As cruel as 77 years drought... Never let you survive with smile... Often makes you take a revenge.. The world is so cruel... But please, don’t change yourself dear.. You’re so worthwhile... You are priceless.. The world may be cruel.. But you, dear… Never born to be…

First, trust God, the rest is do your best.

Di saat kita putus asa, kita baru lari ke Tuhan dan berusaha mengandalkan Tuhan. Padahal, seharusnya Tuhan diandalkan sejak awal, bukan di saat-saat kita sudah putus asa. Kita sering dengar kutipan, "Do your best, let God do the rest." Aku ingin membalik sedikit, "Trust in God in the first place, the rest is do your best." Jangan mencari-cari Tuhan dan mengandalkan Tuhan di saat-saat akhir, carilah DIA sejak awal dan andalkanlah DIA terus sampai akhir.