Kasih anak sepanjang galah,
kasih ibu sepanjang jaman…
Aku tidak tahu bagaimana
pengalaman setiap orang berkenaan dengan ungkapan tersebut tetapi setidaknya
untukku, hal itu benar. Seumur hidupku sampai aku telah menikah saat ini, aku
baru merasakan kemarahan ibuku 3 kali. Kemarahan yang aku maksud di sini bukan
omelan tetapi sungguh rasa marah. Kalau hanya omelan rasanya wajar sekali orang
tua melakukan itu supaya anak selalu ada dalam didikannya. Namun untuk ukuran
segala pemberontakan dan kekasaran omongan-omonganku selama 20-an tahun, 3 kali
marah adalah angka yang sangat kecil. Itu yang menjadi salah satu tolak ukurku
tentang kasih ibuku. Sedurhakanya aku, beliau masih sesabar itu. Kasihnya
sepanjang jalan. Mungkin sesayang itu seorang ibu jika sudah memiliki anak
Kehamilanku adalah proses refleksi tersendiri untukku. Aku tidak selalu diliputi kebahagiaan seperti layaknya orang-orang yang menanti anaknya. Ada kalanya aku sedih atau pun stres karena satu dan lain hal. Tetapi ketika proses berjalan, aku begitu ingin bersyukur aku mengalami masa down maupun up dalam kehamilanku ini.
Salah satu hal yang membuat aku bertabur rasa bahagia adalah ketika aku merasakan pertama kali tendangan surga. Tendangan yang berasal dari dalam perutku sendiri. Meskipun masih usia 4-5 bulan, kadang aku bisa melihat di permukaan kulit perutku bergerak-gerak. Setiap hari aku merasakannya memberi tahuku bahwa dia di dalam aku. Setiap kali bangun tidur, makan, bersantai, dia selalu mengingatkanku bahwa dirinya ingin diajak berkomunikasi juga. Anakku adalah pelajaran hidup bagiku. Dia yang akan mendewasakanku menjadi seorang ibu. Tentu aku tidak akan sebaik ibuku tapi aku berharap bisa menjadi ibu dan teman bagi anakku.
Kehamilanku adalah proses refleksi tersendiri untukku. Aku tidak selalu diliputi kebahagiaan seperti layaknya orang-orang yang menanti anaknya. Ada kalanya aku sedih atau pun stres karena satu dan lain hal. Tetapi ketika proses berjalan, aku begitu ingin bersyukur aku mengalami masa down maupun up dalam kehamilanku ini.
Salah satu hal yang membuat aku bertabur rasa bahagia adalah ketika aku merasakan pertama kali tendangan surga. Tendangan yang berasal dari dalam perutku sendiri. Meskipun masih usia 4-5 bulan, kadang aku bisa melihat di permukaan kulit perutku bergerak-gerak. Setiap hari aku merasakannya memberi tahuku bahwa dia di dalam aku. Setiap kali bangun tidur, makan, bersantai, dia selalu mengingatkanku bahwa dirinya ingin diajak berkomunikasi juga. Anakku adalah pelajaran hidup bagiku. Dia yang akan mendewasakanku menjadi seorang ibu. Tentu aku tidak akan sebaik ibuku tapi aku berharap bisa menjadi ibu dan teman bagi anakku.
Comments
Post a Comment