Skip to main content

Dua Dunia

Kita memiliki dua dunia.
Dunia nyata dan dunia imajinasi.
Jangan pernah lupakan itu.
Keduanya boleh saling menginspirasi.
Tetapi tatkala salah satu di antaranya merusak jiwa dan raga kita, beranilah mawas diri.
Kamu tahu bahwa kamu bangun, mandi, mencari nafkah, menuntut ilmu, makan, lalu tidur lagi untuk meneruskan hidupmu.
Segala hal yang membuatmu bertahan sampai hitungan mundurmu habis.
Itulah semua kehidupan nyatamu.
Lalu datanglah rasa jenuh itu. Maka kamu akan berpikir tentang suatu angan-angan yang adalah fatamorgana dari belahan dunia ini atau suatu ruang dan waktu yang hanya dirimu mengerti. Begitulah imajinasi.
Berbahagialah jika kamu bisa berimajinasi. Karena imajinasi membantu kita melihat suatu ruang dan waktu di belahan dunia meskipun kita tidak berada di kehidupan nyatanya.
Orang-orang yang gagal berimajinasi melihatnya sebagai perusak mental dan akhlak. Mereka berdalih semua itu merusak kehidupan nyata kita. Padahal imajinasi adalah suatu kebebasan.
Sobat mungkin aku sedang berbicara mengenai hal yang tidak kamu mengerti.
Jangan teruskan jika tak sanggup.
Kemudian adalah kehidupan spiritual. Ya spiritual.
Kamu harus mengerti asal katanya jika ingin memperdebatkannya.
Spirit adalah roh. Katakan padaku jika kamu pernah melihatnya. Mungkin aku juga pernah. Tapi percayalah kamu tidak ada bisa menyentuhnya apalagi memperlihatkan wujud aslinya seperti raga kita ini.
Maka roh yang kamu liat adalah imajinasimu. Imajinasimu tentang Tuhan, ya aku juga memilikinya. Jangan pernah salah, ini imajinasi tersakral yang pernah kumiliki.
Inilah salah satu dunia imajinasiku, yang hidup berdampingan dengan dunia nyataku.
Aku pernah berlebihan di dunia imajinasiku sampai aku tersadar bahwa ada dunia nyataku.
Kita tak akan pernah bisa seimbang sungguh dalam keduanya. Tetapi mencoba tak ada salahnya.
Jangan kamu hujat orang salah atas imajinasi mereka tentang apapun terutama tentang Yang Sakral.
Karena kamu tak sedikit pun ambil andil dalam membentuknya.
Kepada Yang Sakral

Comments

Popular posts from this blog

Menjadi Pribadi yang Merdeka Secara Emosional

  Bab buku-buku dan video yang saya renungkan awal pekan ini secara serempak mengarah pada tema "mengampuni dan membebaskan diri dari ikatan emosional". Menjadi pribadi yang merdeka. Inner peace. Mungkin kebetulan, mungkin algoritma. Entahlah. Renungan ini saya bagikan karena dengan berbagi, saya menerima lebih banyak untuk pertumbuhan saya sendiri.   Kita acapkali terjebak dalam dalam ikatan syarat "jika".    Aku bahagia jika anakku bisa bermain musik.  Aku senang jika rumahku rapi dan bersih.  Aku merasa cukup jika gajiku cukup untuk mencukupi kebutuhanku.   Tanpa sadar, jika kondisi di belakang kata "jika" tidak terpenuhi, yang terjadi adalah negasi dari luapan sukacita tadi.   Suamiku tidak mendukungku, aku tidak bahagia. Anakku tidak diterima di PTN terbaik, aku kecewa berat. Dia tidak mengikuti aturan yang sudah kubuat, aku sangat kesal.   Sukacita kita terikat syarat. Ini berdampak pada inner peace kita se...

The World to You

That’s the time when everything turns to yellow… You don’t know where the place you need to go.. The world is cruel… As cruel as hunger tiger… As cruel as 77 years drought... Never let you survive with smile... Often makes you take a revenge.. The world is so cruel... But please, don’t change yourself dear.. You’re so worthwhile... You are priceless.. The world may be cruel.. But you, dear… Never born to be…

First, trust God, the rest is do your best.

Di saat kita putus asa, kita baru lari ke Tuhan dan berusaha mengandalkan Tuhan. Padahal, seharusnya Tuhan diandalkan sejak awal, bukan di saat-saat kita sudah putus asa. Kita sering dengar kutipan, "Do your best, let God do the rest." Aku ingin membalik sedikit, "Trust in God in the first place, the rest is do your best." Jangan mencari-cari Tuhan dan mengandalkan Tuhan di saat-saat akhir, carilah DIA sejak awal dan andalkanlah DIA terus sampai akhir.