Skip to main content

Musim

Kehidupanku berlangsung normal saja. Tidak ada lembah yang benar-benar lembah. Dan tak ada puncak yang benar-benar puncak. Atau mungkin aku belum mengalaminya saja.


Kadangkala dalam hidupmu engkau akan merasa menjadi yang paling menderita di dunia tetapi sebelum melihat kebenaran-kebenaran lain, perasaanmu masih relatif saja. Kau hanya perlu seorang untuk menjadi pendengarmu. Seperti penyiar radio dan pendengarnya. Setelah itu anggap bahwa semua tak ada. Kadang kau tak sungguh-sungguh berucap dan mengamini sesuatu tetapi ketika engkau sedang bercerita dan meluapkan segala isinya, semua bisa dimaafkan. Asal jangan terlalu sering mengucapkan yang tidak kau sungguh-sungguh inginkan saat kau sedang mabuk.


Hal yang membahagiakan juga kadangkala semu. Karena tiba saatnya engkau harus mempersiapkan turun ke lembah. Begitulah hidup, kau tak sungguh-sungguh menderita dan kau tak sungguh-sungguh bahagia. Tetapi cara terbaik menikmatinya adalah menjadi sesuatu seperti seharusnya kamu menjadi.


Saat berduka, berdukalah. Tak usah terlalu memikirkan kapan hal itu akan usai, karena semua akan berlalu. Tak ada yang abadi begitupun duka. Ketika sedang bahagia, bahagialah sesuai yang kau mau. Tak perlu was-was bahwa dalam sekejap semua itu akan diambil daripadamu. Jika pun iya, setidaknya engkau telah menggunakan waktu untuk menikmati semua itu. Karena waktu adalah mantan terkejam. Dia tak akan pernah kembali padamu.


Musim panas akan datang dengan sendirinya ketika engkau menanti di musim penghujan. Musim penghujan pun akan datang dengan sendirinya saat segala sesuatunya sudah sangat sulit karena air kehidupan yang entah hilang ke mana.


Kamu tak pernah boleh kehilangan mimpimu meskipun semua serasa tidak mendukungmu. Hiduplah beriringan dengannya sembari menikmati kehidupanmu sendiri. Karena hujan dan panas akan terus bergantian, jangan khawatirkan itu.



Comments

Popular posts from this blog

Menjadi Pribadi yang Merdeka Secara Emosional

  Bab buku-buku dan video yang saya renungkan awal pekan ini secara serempak mengarah pada tema "mengampuni dan membebaskan diri dari ikatan emosional". Menjadi pribadi yang merdeka. Inner peace. Mungkin kebetulan, mungkin algoritma. Entahlah. Renungan ini saya bagikan karena dengan berbagi, saya menerima lebih banyak untuk pertumbuhan saya sendiri.   Kita acapkali terjebak dalam dalam ikatan syarat "jika".    Aku bahagia jika anakku bisa bermain musik.  Aku senang jika rumahku rapi dan bersih.  Aku merasa cukup jika gajiku cukup untuk mencukupi kebutuhanku.   Tanpa sadar, jika kondisi di belakang kata "jika" tidak terpenuhi, yang terjadi adalah negasi dari luapan sukacita tadi.   Suamiku tidak mendukungku, aku tidak bahagia. Anakku tidak diterima di PTN terbaik, aku kecewa berat. Dia tidak mengikuti aturan yang sudah kubuat, aku sangat kesal.   Sukacita kita terikat syarat. Ini berdampak pada inner peace kita se...

The World to You

That’s the time when everything turns to yellow… You don’t know where the place you need to go.. The world is cruel… As cruel as hunger tiger… As cruel as 77 years drought... Never let you survive with smile... Often makes you take a revenge.. The world is so cruel... But please, don’t change yourself dear.. You’re so worthwhile... You are priceless.. The world may be cruel.. But you, dear… Never born to be…

First, trust God, the rest is do your best.

Di saat kita putus asa, kita baru lari ke Tuhan dan berusaha mengandalkan Tuhan. Padahal, seharusnya Tuhan diandalkan sejak awal, bukan di saat-saat kita sudah putus asa. Kita sering dengar kutipan, "Do your best, let God do the rest." Aku ingin membalik sedikit, "Trust in God in the first place, the rest is do your best." Jangan mencari-cari Tuhan dan mengandalkan Tuhan di saat-saat akhir, carilah DIA sejak awal dan andalkanlah DIA terus sampai akhir.