Kehidupanku
berlangsung normal saja. Tidak ada lembah yang benar-benar lembah. Dan tak ada puncak
yang benar-benar puncak. Atau mungkin aku belum mengalaminya saja.
Kadangkala dalam
hidupmu engkau akan merasa menjadi yang paling menderita di dunia tetapi
sebelum melihat kebenaran-kebenaran lain, perasaanmu masih relatif saja. Kau
hanya perlu seorang untuk menjadi pendengarmu. Seperti penyiar radio dan pendengarnya.
Setelah itu anggap bahwa semua tak ada. Kadang kau tak sungguh-sungguh berucap
dan mengamini sesuatu tetapi ketika engkau sedang bercerita dan meluapkan
segala isinya, semua bisa dimaafkan. Asal jangan terlalu sering mengucapkan
yang tidak kau sungguh-sungguh inginkan saat kau sedang mabuk.
Hal yang
membahagiakan juga kadangkala semu. Karena tiba saatnya engkau harus
mempersiapkan turun ke lembah. Begitulah hidup, kau tak sungguh-sungguh
menderita dan kau tak sungguh-sungguh bahagia. Tetapi cara terbaik menikmatinya
adalah menjadi sesuatu seperti seharusnya kamu menjadi.
Saat berduka,
berdukalah. Tak usah terlalu memikirkan kapan hal itu akan usai, karena semua
akan berlalu. Tak ada yang abadi begitupun duka. Ketika sedang bahagia,
bahagialah sesuai yang kau mau. Tak perlu was-was bahwa dalam sekejap semua itu
akan diambil daripadamu. Jika pun iya, setidaknya engkau telah menggunakan
waktu untuk menikmati semua itu. Karena waktu adalah mantan terkejam. Dia tak
akan pernah kembali padamu.
Musim panas akan datang
dengan sendirinya ketika engkau menanti di musim penghujan. Musim penghujan pun
akan datang dengan sendirinya saat segala sesuatunya sudah sangat sulit karena
air kehidupan yang entah hilang ke mana.
Kamu tak pernah boleh
kehilangan mimpimu meskipun semua serasa tidak mendukungmu. Hiduplah beriringan
dengannya sembari menikmati kehidupanmu sendiri. Karena hujan dan panas akan
terus bergantian, jangan khawatirkan itu.
Comments
Post a Comment