Skip to main content

Hal yang Kau Tahu

Hal yang akan kamu baca setelah ini adalah salah satu tentang sesuatu yang tidak pernah bisa kamu sentuh, dengar, dan lihat. Kamu tak akan pernah bisa mendeskripsikannya dengan sempurna tapi banyak orang mengaku pernah merasakannya. Well, hampir tiap orang. Aku tak benar-benar bisa menyebutkannya agar tidak menjadi terlarang. Lihat kan, sebelum aku menyebutkannya pun sudah banyak yang terpikir tentang hal ini. Ya sebagian akan menggambarkannya dengan suatu yang indah, positif, membangun hidup, memberi semangat dan sebagainya. Sementara yang lain merasakannya sebagai sesuatu yang menyiksa, membabi buta, menjerumuskan, menjebak dan sebagainya.

Tebaklah mengapa setiap orang memiliki penafsiran atas hal yang-tak-ingin-kusebutkan ini. Karena setiap orang mengalami pengalaman yang berbeda. Seseorang bersikukuh bahwa hal ini membawa kebahagiaan dan memaksakan orang lain untuk menerima pendapatnya. Sementara orang lain juga tak kalah saing berpendapat bahwa hal ini membawa sesuatu yang membuat hidup lemah dan menyiksa. Siapa gerangan di antara mereka yang benar?

Siapa pemilik kebenaran kalau bukan diri mereka masing-masing. Kebenaran bersifat relatif bukan? Mana yang lebih besar, bulan, matahari, atau bola matamu? Silakan menjawab dan kau tak akan pernah salah asal kau memiliki jawabanmu sendiri. Karena, tak ada yang lebih absolut daripada kecepatan cahaya. Sampai suatu saat kamu bisa menemukan yang lebih absolut dari kecepatan cahaya.


Di sinilah kuakhiri tulisan tentang sesuatu yang tak perlu kusebutkan namanya.

Comments

Popular posts from this blog

Menjadi Pribadi yang Merdeka Secara Emosional

  Bab buku-buku dan video yang saya renungkan awal pekan ini secara serempak mengarah pada tema "mengampuni dan membebaskan diri dari ikatan emosional". Menjadi pribadi yang merdeka. Inner peace. Mungkin kebetulan, mungkin algoritma. Entahlah. Renungan ini saya bagikan karena dengan berbagi, saya menerima lebih banyak untuk pertumbuhan saya sendiri.   Kita acapkali terjebak dalam dalam ikatan syarat "jika".    Aku bahagia jika anakku bisa bermain musik.  Aku senang jika rumahku rapi dan bersih.  Aku merasa cukup jika gajiku cukup untuk mencukupi kebutuhanku.   Tanpa sadar, jika kondisi di belakang kata "jika" tidak terpenuhi, yang terjadi adalah negasi dari luapan sukacita tadi.   Suamiku tidak mendukungku, aku tidak bahagia. Anakku tidak diterima di PTN terbaik, aku kecewa berat. Dia tidak mengikuti aturan yang sudah kubuat, aku sangat kesal.   Sukacita kita terikat syarat. Ini berdampak pada inner peace kita se...

The World to You

That’s the time when everything turns to yellow… You don’t know where the place you need to go.. The world is cruel… As cruel as hunger tiger… As cruel as 77 years drought... Never let you survive with smile... Often makes you take a revenge.. The world is so cruel... But please, don’t change yourself dear.. You’re so worthwhile... You are priceless.. The world may be cruel.. But you, dear… Never born to be…

First, trust God, the rest is do your best.

Di saat kita putus asa, kita baru lari ke Tuhan dan berusaha mengandalkan Tuhan. Padahal, seharusnya Tuhan diandalkan sejak awal, bukan di saat-saat kita sudah putus asa. Kita sering dengar kutipan, "Do your best, let God do the rest." Aku ingin membalik sedikit, "Trust in God in the first place, the rest is do your best." Jangan mencari-cari Tuhan dan mengandalkan Tuhan di saat-saat akhir, carilah DIA sejak awal dan andalkanlah DIA terus sampai akhir.