Entah
sudah berapa tahun lalu. Sebenarnya aku tahu pasti, hanya aku tak kukatakan.
Sebelum aku merasakan masa puncakkku tercapai, maka masa paling indah dalam
hidupku mungkin ketika aku SD.
Aku
sungguh tak memikirkan apa-apa mengenai perasaan orang lain. Aku sungguh tak
memikirkan resiko ketika aku menantang orang berkelahi. Karena saat aku
melakukannya akibatnya tinggal kutanggung begitu saja. Orang tersakiti karena
perkataanku. Dan aku menanggung malu karena tantangan berkelahiku ternyata
hanya mimpi di mulutku.
Tetapi
aku sungguh senang di masa ini. Aku tak peduli barang sedikitpun tentang
jeleknya bentukku. Bermain dan bermain.
Kuingat
di kelas 4 SD, ruang kami bersebelahan dengan ruang kelas SMA kelas 3. Sekolah
kami begitu heterogen saat itu sehingga kelas bisa pindah ke sana kemari
tergantung ketesediaan. Dan kami berbaur dengan anak SMP, SMA, STM, dan tidak
lupa anak TK.
Bangganya aku sebagai anak SD, setidaknya kami masih memiliki
satu tingkatan di bawah kami yang ketika upacara bendera pasti terlihat dengan
satu ciri: mereka adalah yang paling telat mengumandangkan Pancasila di antara
tingkat sekolah yang di atasnya. Aku bangga karena karena aku pernah menjadi TK
dan sangat tidak enak rasanya ketika seluruh warga sekolah menunggu kami
selesai mengucapkan 5 syahadat Negara ini.
Oh,
maaf ceritaku ke sana kemari. Saat masih kelas 4 aku sering cari perhatian
dengan anak SMA sebelah kelas. Lumayan, sebagai anak SD ketika diperhatikan,
aku seperti memiliki backing. Haha. Dan tak ada ruginya, kalau ada PR, aku
cukup sering mengganggu mereka yang sekarang mungkin usianya 30-35 tahun. Kalau
mereka memiliki makanan atau permen kadang mereka membagi. Asik sekali.
Cerita
lain adalah bahwa masa SD benar-benar masa di mana kebodohan kita kadang bisa
kita tanggung atau ditanggung orang lain. Apapun yang kita lakukan, orang akan
memaklumi. Karena terinspirasi film laga, aku pernah bersama 2 orang teman
sengaja menaruh kaca di jalan masuk ke sekolah agar mobil/sepeda motor yang
lewat, pecah bannya. Tapi itu tidak terjadi, dan ya sudahlah.
Banyak
sekali hal-hal yang aku senangi di masa SD, karena sekali lagi, di masa ini,
kesalahanmu akan dianggap hanya sebuah kebodohan dan orang akan memaklumimu
karena kamu anak kecil.
Tetapi
ada satu pengalaman yang juga membuatku berpikir bahwa usia anak kecil kamu
dimaklumi dan kamu dalam bahaya. Karena tubuhmu kecil, otakmu belum berkembang.
Kamu pernah mendengar ekshibisionis? Entah bagaimana penulisannya. Kini istilah
ini kutau 2 dekade kemudian.
Aku
bersama sahabatku yang saat ini masih sahabatku, menunggu angkutan umum di
depan sekolah ketika sebuah sedan putih mendekat. Sahabatku yakin orang di
dalam hendak bertanya alamat. Jadi kami anak SD yang masih masih naif menunggu
dan bersiap menjawab pertanyaan si sopir.
Tapi
sudah kubilang masa SD adalah masa rapuh juga, seandainya ini terjadi padaku
sekarang. Mungkin orang itu sudah kulempar batu, kutendang-tendang mobilnya.
Dia menunjukkan barang yang sengaja diberi nama kemaluan. Bangsaaaaaat!
Comments
Post a Comment