Skip to main content

Sebatang Rokok

Sebatang rokok melekat di bibir seorang manager kala ia duduk termenung, pandangannya kosong ke satu titik. Tiga puluh menit lalu penjual sate membuat mata sang manager memiliki titik pandang pengalih perhatiannya. Empat puluh menit setelahnya, sang penjual sate lekat dengan kepulan asap, bukan dari mana-mana tapi sebatang rokok pula. Sebatang rokok sebelum habis waktunya mendengar seseorang yang berpenghasilan besar dan seseorang yang berpenghasilan pas, sama-sama membicarakan uang.


Sebatang rokok hampir padam karena seorang perempuan merenggut paksa dari mulut laki-lakinya. Lima menit yang lalu sudah ada di lantai dan hendak diinjak. Lima belas menit kemudian menembus kulit perempuan. Alhasil, laki-laki itu tidak ditambah imbuhan –nya lagi.


Sebatang rokok dilinting terakhir oleh seorang Ibu. Ingat dia mengikat kepalanya, rekan-rekannya juga begitu. Sepuluh menit yang lalu ia ditelpon oleh rumah sakit. Dua puluh menit lagi ia akan membayar obat suaminya yang bernapas lewat lehernya.


Comments

Popular posts from this blog

Menjadi Pribadi yang Merdeka Secara Emosional

  Bab buku-buku dan video yang saya renungkan awal pekan ini secara serempak mengarah pada tema "mengampuni dan membebaskan diri dari ikatan emosional". Menjadi pribadi yang merdeka. Inner peace. Mungkin kebetulan, mungkin algoritma. Entahlah. Renungan ini saya bagikan karena dengan berbagi, saya menerima lebih banyak untuk pertumbuhan saya sendiri.   Kita acapkali terjebak dalam dalam ikatan syarat "jika".    Aku bahagia jika anakku bisa bermain musik.  Aku senang jika rumahku rapi dan bersih.  Aku merasa cukup jika gajiku cukup untuk mencukupi kebutuhanku.   Tanpa sadar, jika kondisi di belakang kata "jika" tidak terpenuhi, yang terjadi adalah negasi dari luapan sukacita tadi.   Suamiku tidak mendukungku, aku tidak bahagia. Anakku tidak diterima di PTN terbaik, aku kecewa berat. Dia tidak mengikuti aturan yang sudah kubuat, aku sangat kesal.   Sukacita kita terikat syarat. Ini berdampak pada inner peace kita se...

The World to You

That’s the time when everything turns to yellow… You don’t know where the place you need to go.. The world is cruel… As cruel as hunger tiger… As cruel as 77 years drought... Never let you survive with smile... Often makes you take a revenge.. The world is so cruel... But please, don’t change yourself dear.. You’re so worthwhile... You are priceless.. The world may be cruel.. But you, dear… Never born to be…

First, trust God, the rest is do your best.

Di saat kita putus asa, kita baru lari ke Tuhan dan berusaha mengandalkan Tuhan. Padahal, seharusnya Tuhan diandalkan sejak awal, bukan di saat-saat kita sudah putus asa. Kita sering dengar kutipan, "Do your best, let God do the rest." Aku ingin membalik sedikit, "Trust in God in the first place, the rest is do your best." Jangan mencari-cari Tuhan dan mengandalkan Tuhan di saat-saat akhir, carilah DIA sejak awal dan andalkanlah DIA terus sampai akhir.