Skip to main content

Membunuh dan Menghidupi

Mengerikan juga hidup di jaman sekarang. Kecanggihan teknologi terlihat membuat pintar masyarakat. Tetapi sekaligus menjadi alat penggerak opini masyarakat. Berbuat buruklah maka dalam sekejab kamu bisa tampil menjadi public figure di koran, majalah, televisi, internet.

Lihat saja jika engkau sungguh terlihat baik maka masyarakat akan mengelu-elukanmu. Tapi jika engkau cacat di mata mereka, mampuslah hidupmu. Hidup dalam penjara kau dianiaya, di luar penjara pun tak ada bedanya.

Lihatlah betapa mengerikan ketika engkau tak bisa menahan nafsumu. Nafsu apapun. Kekuasaan, birahi, apapun. Jika tampak di publik, pasti kau cela! Jika kau sudah pernah buruk, jarang sekali masyarakat bisa menerimamu lagi.

Tapi aku kadang pun merasa aneh melihat masyarakat yang begitu menghakimi. Mereka seakan tak punya rasa toleransi. Apa yang akan mereka lakukan jika yang dihakimi adalah sanak saudara mereka sendiri.

Tapi yang lain, jika engkau melakukan korupsi. Dan engkau membunuh banyak orang. Tak adilkah jika engkau dihakimi?

Aku hanya ingat sejarah. Seorang wanita pernah hampir dirajam karena berbuat nista. Nista, ingat! Di jaman ini jika kau berbuat nista, orang akan mencemoohmu. Tapi yang mencemoohmu mungkin juga melakukan nista.

Tetapi hadirlah seseorang yang membuka pikiran orang-orang di masa itu. Katanya jika ada yang merasa dirinya paling benar, boleh merajam di urutan pertama. Sayang sekali orang yang membuka pikiran itu juga tiada karena dihakimi. Tapi konon dia akan datang menghakimi semua.

Ya begitulah kehidupan. Hal sekecil apaun di masa kini bisa menjadi sebuah bom publik. Media banyak juga membentuk opini publik. Menimbulkan kebencian, penghakiman. Tapi ingatlah di balik itu semua media juga tempat mencari nafkah.


Semua yang ada di dunia ini adalah aksi-reaksi. Terserah bagaimana kita menempatkan diri. Tetapi di balik kekejaman pembunuhan berencana yang dihakimi banyak orang, si pembunuh secara tidak langsung berkontribusi besar dalam memberi penghidupan ke beberapa orang.

Comments

Popular posts from this blog

The World to You

That’s the time when everything turns to yellow… You don’t know where the place you need to go.. The world is cruel… As cruel as hunger tiger… As cruel as 77 years drought... Never let you survive with smile... Often makes you take a revenge.. The world is so cruel... But please, don’t change yourself dear.. You’re so worthwhile... You are priceless.. The world may be cruel.. But you, dear… Never born to be…

Manusia Cemas

Aku merasa selalu kekurangan kadar serotonin. Di mana aku dapat membelinya? Kulihat orang-orang memiliki masa senang dan kelabu tetapi tidak denganku. Rasanya dalam hidup, perasaan cemas dominan dalam diriku. Kadang aku berusaha berdoa, dan menurut Santo Padre Pio, santo yang kukagumi, kecemasan adalah tanda ketidakpercayaan kepada penyelenggaraan ilahi. Dalam sikap Ibu Maria juga tercermin penyerahan dirinya yang luar biasa pada kehendak Allah. Sementara Tuhan Yesus mengajarkan Bapa Kami, doa yang luar biasa sulitnya, "Jadilah kehendak-Mu, di bumi dan di surga." Kadang aku berusaha mencari-cari penyebab rasa cemasku yang berlebihan. Mungkin ini gangguan kesehatan mental. Dan kudapatkan kata "serotonin" di atas, hormon yang berpengaruh besar pada perubahan mood. Tak jarang imajinasiku membayangkan diriku akan gila dalam waktu dekat. Kadang aku tak mampu mengungkapkan kepada siapa pun karena aku sudah tahu apa yang akan mereka katakan, "Tenang saja." Lalu...

Menjadi Pribadi yang Merdeka Secara Emosional

  Bab buku-buku dan video yang saya renungkan awal pekan ini secara serempak mengarah pada tema "mengampuni dan membebaskan diri dari ikatan emosional". Menjadi pribadi yang merdeka. Inner peace. Mungkin kebetulan, mungkin algoritma. Entahlah. Renungan ini saya bagikan karena dengan berbagi, saya menerima lebih banyak untuk pertumbuhan saya sendiri.   Kita acapkali terjebak dalam dalam ikatan syarat "jika".    Aku bahagia jika anakku bisa bermain musik.  Aku senang jika rumahku rapi dan bersih.  Aku merasa cukup jika gajiku cukup untuk mencukupi kebutuhanku.   Tanpa sadar, jika kondisi di belakang kata "jika" tidak terpenuhi, yang terjadi adalah negasi dari luapan sukacita tadi.   Suamiku tidak mendukungku, aku tidak bahagia. Anakku tidak diterima di PTN terbaik, aku kecewa berat. Dia tidak mengikuti aturan yang sudah kubuat, aku sangat kesal.   Sukacita kita terikat syarat. Ini berdampak pada inner peace kita se...