Skip to main content

Kehamilan Pertama Part 2: Flek Selama Trisemester Pertama

"Siapa sangka aku benar-benar hamil?" Begitu yang kukatakan pada diri sendiri kala mendapati aku sedang membawa calon manusia dalam rahimku. Aku pun sempat keheranan ternyata tubuhku bisa mendapat anugerah itu.

Flek Pertama
Rasa takjub dan tak percaya hari Minggu sebelum Idul Adha itu tak berlangsung lama karena setelah aku melakukan tes kehamilan pribadi, aku mendapati bahwa ada flek keluar dari jalan lahir bayiku. Aku tentu bertanya-tanya apakah benar aku hamil atau hanya hamil semu belaka?
Begitu mudahnya tiap informasi diakses dari Internet sehingga aku pun langsung mencari segala sesuatunya lewat jalan itu. Sampai aku menulis ini, aku sudah pada tahap di mana aku tak ingin mengambil mentah-mentah segala sesuatunya dari Internet. Segala sesuatu yang Anda baca harus mendapat filter berkali-kali, apalagi jika Anda merasa mudah terpengaruh dan mudah panik, hehehe.
Ketika aku mencari informasi di Internet, banyak sekali sharing ibu-ibu yang menggetarkan jiwa. Beberapa dari mereka mengatakan flek itu tanda keguguran, ada juga yang mengatakan hal wajar di trisemester pertama. Selain itu aku juga mendapat informasi jika flek mungkin saja adalah bentuk implantasi dari benih bayi kita. Jadi karena masih berusaha menempel di dinding rahim, maka keluarlah darah flek tersebut. Di flek pertama ini, yang kudapati warnanya coklat layaknya jika wanita tengah sedang masa-masa selesai menstruasi. Dan karena banyak hal yang tak pasti yang membuat lebih panik, akhirnya kuputuskan untuk esoknya pergi cek ke rumah sakit terdekat.

Susahnya Kontrol di Idul Adha
Tanggal 12 September 2016, tepat Hari Raya Idul Adha, aku mencoba mencari rumah sakit yang memiliki dokter kandungan sedang praktik. Malam sebelumnya aku sudah mencoba untuk mencari klinik dengan dokter kandungan yang buka tetapi nihil karena semua orang sedang sibuk takbiran. Di hari raya kurban pun aku masih ragu bisa menemukan rumah sakit terdekat dengan dokter kandungan yang masih aktif. Kondisiku pada pagi itu sudah tidak karuan. Aku masih muntah-muntah lebih dari 10 kali dengan diselimuti rasa panik benarkah aku hamil atau tidak. Akhirnya kutemukan rumah sakit yang masih buka namun sayangnya tak ada dokter kandungan yang sedang praktik. Semua orang sedang sibuk dengan Idul Adha.
Akhirnya aku diperiksa di IGD. Aku katakan di situ bahwa aku sudah muntah-muntah lebih dari 10 kali dan ada flek. Akhirnya aku tes lab di rumah sakit tersebut dan memang hasilnya postif. Dari tes yang dilakukan, HBku normal, tekanan darah dan sebagainya masih bagus.
Setelah pulang aku diberi obat untuk mengurangi mual muntah dan tambah darah. Aku disarankan untuk kembali esoknya untuk menemui dokter kandungan.

Menghadapi Dokter Kandungan Pertama Kali
Aku datang di klinik kandungan rumah sakit yang sama untuk pertama kali. Pengalaman ini cukup menarik bagiku karena dengan badan cungkring dan wajah pucat, aku lebih mirip seperti orang sakit tipes daripada ibu hamil. Pasien-pasien lainnya pun adalah para ibu-ibu yang perutnya sudah membesar mungkin 6-9 bulan.
Saat masuk pertama kali dan mengatakan aku ada flek, dokter langsung meminta aku bedrest. Tak banyak yang aku bisa gali dari dokter ini. Boleh kukatakan sekarang bahwa dokter pertama ini sangat tidak informatif. Aku tidak tahu apa yang harus kutanyakan dan dia juga tidak banyak memberi tahu mengapa aku flek, mengapa begini dan mengapa begitu. Hal yang lebih membuatku lebih panik adalah kata-kata beliau yang mengatakan bahwa tunas bayinya belum terlihat, dan belum bisa dipastikan apakah minggu depan berkembang atau tidak. Dia justru menawarkan aku untuk opname saat itu tetapi karena aku tidak mau maka aku memilih di rumah dengan syarat harus benar-benar istirahat total.
Aku pulang dengan hati yang tidak tenang. Di samping itu masih harus menghadapi keluhan mual muntah yang masih saja hebat meski sudah diberi obat. Setidaknya aku masih 3-4 kali muntah setelah diberi obat pengurang mual muntah. Dan di saat itu pula aku mulai mendapat daftar makanan-makanan yang tidak boleh aku makan. Wow, ketika kubaca, dari penyedap masakan sampai ayam broiler pun dilarang. Jujur di sini aku merasa bingung, bahwa aku tidak boleh makan yang mengandung ini itu padahal aku sendiri sudah mulai kehilangan nafsu makan.

Setidaknya inilah daftar keluhanku saat mulai berjalan trisemester awal kehamilanku:
- mual muntah
- sensitif bau-bauan (termasuk orang sedang memasak)
- flek
- mulut mengeluarkan liur terus-terusan
- badan tidak karuan
- sering pusing
- insomnia
- susah buang air besar



Comments

Popular posts from this blog

Menjadi Pribadi yang Merdeka Secara Emosional

  Bab buku-buku dan video yang saya renungkan awal pekan ini secara serempak mengarah pada tema "mengampuni dan membebaskan diri dari ikatan emosional". Menjadi pribadi yang merdeka. Inner peace. Mungkin kebetulan, mungkin algoritma. Entahlah. Renungan ini saya bagikan karena dengan berbagi, saya menerima lebih banyak untuk pertumbuhan saya sendiri.   Kita acapkali terjebak dalam dalam ikatan syarat "jika".    Aku bahagia jika anakku bisa bermain musik.  Aku senang jika rumahku rapi dan bersih.  Aku merasa cukup jika gajiku cukup untuk mencukupi kebutuhanku.   Tanpa sadar, jika kondisi di belakang kata "jika" tidak terpenuhi, yang terjadi adalah negasi dari luapan sukacita tadi.   Suamiku tidak mendukungku, aku tidak bahagia. Anakku tidak diterima di PTN terbaik, aku kecewa berat. Dia tidak mengikuti aturan yang sudah kubuat, aku sangat kesal.   Sukacita kita terikat syarat. Ini berdampak pada inner peace kita se...

The World to You

That’s the time when everything turns to yellow… You don’t know where the place you need to go.. The world is cruel… As cruel as hunger tiger… As cruel as 77 years drought... Never let you survive with smile... Often makes you take a revenge.. The world is so cruel... But please, don’t change yourself dear.. You’re so worthwhile... You are priceless.. The world may be cruel.. But you, dear… Never born to be…

First, trust God, the rest is do your best.

Di saat kita putus asa, kita baru lari ke Tuhan dan berusaha mengandalkan Tuhan. Padahal, seharusnya Tuhan diandalkan sejak awal, bukan di saat-saat kita sudah putus asa. Kita sering dengar kutipan, "Do your best, let God do the rest." Aku ingin membalik sedikit, "Trust in God in the first place, the rest is do your best." Jangan mencari-cari Tuhan dan mengandalkan Tuhan di saat-saat akhir, carilah DIA sejak awal dan andalkanlah DIA terus sampai akhir.