Skip to main content

Kehamilan Pertama Part 3: Flek Kedua

Sekitar satu minggu aku habiskan untuk istirahat di rumah kontrakanku. Aku tidak banyak melakukan aktivitas dan hanya tidur-tiduran tetapi justru itu yang membuat kehamilan ini sungguh sebuah ujian bagiku. Rasa bosan dan perasaan tak bisa bekerja membuatku merasa tidak berguna. Belum lagi sakit kepala yang datang karena aku terlalu banyak tidur. Sangat serba salah. Harus istirahat tetapi kepalaku tidak bisa diajak kompromi.
Setiap hari yang aku lakukan adalah menunggu suamiku datang dan membawa makanan. Dan kerasnya kota Jakarta agaknya membuat keadaan ini makin parah. Dia selalu tiba di rumah di atas pukul 7.30 dan kadang aku merasa sudah frustasi karena kelaparan. Ditambah riwayat magh serta mual muntah masa kritis ini membuatku begitu depresi di rumah.
Kepulangan suamiku sangat aku sambut karena dia satu-satunya tempat aku melampiaskan segala keluh kesahku. Aku tidak ingin berusaha membuat diriku untuk berpikir positif jika aku sedang tidak bisa. Aku tidak mau menipu diri sendiri karena memang perasaan tak nyaman tidak bisa kunikmati begitu saja. Jadi sebisa mungkin aku melampiaskan segala perasaanku kepada suamiku. Di saat frustasi pun aku merasa Jakarta kian kejam kepadaku. Mengapa aku harus merasakan perasaan tak nyaman seperti itu di kota keras seperti Jakarta? Begitu kira-kira drama yang selalu aku ungkapkan selama trisemester pertama.

Flek Lagi dan Lagi
Satu minggu setelah masa istirahatku, aku kembali ke kantor dengan harapan menemukan sosialisasi yang bisa membuat aku kembali semangat dan tidak terkungkung di kamar saja. Kondisiku masih agak lemas karena mual dan muntah berkepanjangan tetapi aku yakin setelah istirahat maka semua akan normal kembali.
Harapan tinggallah harapan ketika aku tahu bahwa di hari kedua di malam hari aku merasa begitu lelah dan ingin segera istirahat setelah tiba di rumah. Aku ingat kami tiba di rumah pukul 8 malam dan aku langsung tertidur. Tengah malam aku terbangun karena hendak buang air kecil tapi di situ pula aku merasakan bahwa ada sedikit kontraksi di perutku. Kontraksi yang mirip ketika aku menstruasi. Kurasakan sesuatu mengalir dan aku berharap itu bukan flek tetapi aku salah. Aku kembali mendapati malam itu aku flek lagi dan mulai panikku melanda. Aku ingin segera ke rumah sakit esok harinya untuk mengecek bahwa bayiku tidak apa-apa.
Esok paginya flek masih belum selesai dan aku mengajak suamiku untuk ke rumah sakit yang sama. Aku sudah merasa bahwa saat itu pasti dokter akan menyuruhku untuk opname dan tidak ada kata bedrest lagi. Dan benar, sang dokter mengatakan bahwa aku tak bisa diajak istirahat sehingga harus sungguh di rumah sakit. Aku sendiri merasa tak apa karena mungkin itu satu-satunya cara agar aku bisa fokus memikirkan kehamilanku. Tetapi suamiku merasa bahwa dokter ini hanya memaksakan kehendaknya. Suamiku merasa bahwa aku tidak perlu harus opname karena dokter tersebut hanya melakukan bisnis rumah sakit.
Aku begitu marah pada suamiku karena dia tak tahu betapa paniknya aku dan betapa aku ingin mempertahankan bayiku. Tetapi pada akhirnya saat ini aku pun tidak sepenuhnya lagi ingin mendengar semua yang dokter katakan. Ada hal-hal yang benar yang dikatakan suami yang pada akhirnya kusadari.
Meski di USG janinku sudah ada tetapi lagi-lagi seolah dokter ini tak puas memberi rasa was-was tentang janinku. Dikatakannya, detak jantungnya masih di bawah normal yakni 148, yang beberapa waktu kemudian kutanya pada ibuku bahwa detak jantung janin normal adalah 120-160. Dari situlah awal mula aku mulai ragu dengan dokter pertama tempat aku memeriksakan kehamilanku. Sebagai tambahan cerita, ibuku adalah seorang bidan senior dan aku mempercayai kata-katanya lebih dari alat-alat canggih dokter.
Saat itu juga aku memberi kabar kepada orang tuaku bahwa aku harus diopname dan mereka begitu perhatiannya langsung terbang hari itu juga untuk menemuiku. Mereka tahu bahwa suamiku akan sibuk bekerja dan tak punya waktu untuk menjagaku selama aku di rumah sakit.
Empat hari lamanya aku berada di rumah sakit. Di masa itu aku tidak mual dan muntah, mungkin karena obat yang diberikan lewat infus. Ibuku mungkin tahu aku tak perlu opname tetapi untuk kebaikanku beliau terus menjaga sambil memberi banyak informasi yang sangat berguna bagiku. Selama menjagaku, ibuku justru bersosialisasi dengan pasien partus yang berada satu ruangan denganku. Sesekali beliau bercerita kepadaku bahwa beberapa alasan cesar yang diberikan dokter kepada tetangga-tetanggaku satu ruangan sebenarnya masih bisa diusahakan untuk normal. Ya Tuhan, ibuku tak tahu bahwa semakin ia menjelaskan, semakin aku malas dengan segala hal yang berbau dokterku itu. Tetapi untuk janinku, aku berusaha sabar.

Bedrest Paska Opname
Setelah opname, aku masih menjalani masa pemulihan. Mungkin aku telah absen kerja selama satu minggu lebih untuk opname dan bedrest kedua ini. Di kepalaku masih saja memikirkan pekerjaan dan bagaimana aku harus membantu suamiku untuk mencari nafkah. Tetapi kondisiku mengharuskan aku istirahat. Ibuku pun masih bersamaku setelah aku pulang dari rumah sakit. Aku merasa sangat ketergantungan dengan beliau saat-saat itu sehingga ketika masanya beliau untuk kembali ke rumah di Semarang, aku menangis sejadi-jadinya. Aku tak ingin ditinggalkan dan ingin dekat-dekat dengan ibuku selalu. Tetapi kehidupan sudah memanggilku kembali dan aku harus menjalani kehamilan ini dan terus bekerja untuk anakku.

Comments

Popular posts from this blog

Menjadi Pribadi yang Merdeka Secara Emosional

  Bab buku-buku dan video yang saya renungkan awal pekan ini secara serempak mengarah pada tema "mengampuni dan membebaskan diri dari ikatan emosional". Menjadi pribadi yang merdeka. Inner peace. Mungkin kebetulan, mungkin algoritma. Entahlah. Renungan ini saya bagikan karena dengan berbagi, saya menerima lebih banyak untuk pertumbuhan saya sendiri.   Kita acapkali terjebak dalam dalam ikatan syarat "jika".    Aku bahagia jika anakku bisa bermain musik.  Aku senang jika rumahku rapi dan bersih.  Aku merasa cukup jika gajiku cukup untuk mencukupi kebutuhanku.   Tanpa sadar, jika kondisi di belakang kata "jika" tidak terpenuhi, yang terjadi adalah negasi dari luapan sukacita tadi.   Suamiku tidak mendukungku, aku tidak bahagia. Anakku tidak diterima di PTN terbaik, aku kecewa berat. Dia tidak mengikuti aturan yang sudah kubuat, aku sangat kesal.   Sukacita kita terikat syarat. Ini berdampak pada inner peace kita se...

The World to You

That’s the time when everything turns to yellow… You don’t know where the place you need to go.. The world is cruel… As cruel as hunger tiger… As cruel as 77 years drought... Never let you survive with smile... Often makes you take a revenge.. The world is so cruel... But please, don’t change yourself dear.. You’re so worthwhile... You are priceless.. The world may be cruel.. But you, dear… Never born to be…

First, trust God, the rest is do your best.

Di saat kita putus asa, kita baru lari ke Tuhan dan berusaha mengandalkan Tuhan. Padahal, seharusnya Tuhan diandalkan sejak awal, bukan di saat-saat kita sudah putus asa. Kita sering dengar kutipan, "Do your best, let God do the rest." Aku ingin membalik sedikit, "Trust in God in the first place, the rest is do your best." Jangan mencari-cari Tuhan dan mengandalkan Tuhan di saat-saat akhir, carilah DIA sejak awal dan andalkanlah DIA terus sampai akhir.