Skip to main content

Kehamilan Pertama Part 1: Ternyata Aku Hamil

Di usia pernikahan kami yang belum ada setahun, sekitar 9 bulan, kami dipercayai dengan kehamilan pertamaku. Tak ada program khusus sebenarnya untuk kehamilan ini, karena aku pun tak buru-buru memiliki momongan. Namun karena suami sepertinya ingin segera menimang bayi, ia memasang aplikasi Get Baby di Android seperti yang disarankan rekan sekantornya. Aku tidak terlalu percaya dan tidak berharap banyak dengan aplikasi ini meskipun telah berhasil di rekan suami tersebut. Lagipula sekali lagi aku masih santai-santai saja.
Pada pekan subur yang diprediksi di aplikasi tersebut kami 'berusaha' seperti biasa. Tanpa ritual apapun, tanpa tambahan vitamin apapun, kecuali niat suami membeli taoge 1/4 kilo setiap pekan untuk dirinya sendiri (aku sangat membenci bau taoge, btw). Itupun hanya bertahan 2 minggu karena ternyata pada akhirnya dia tak tahan juga dengan baunya (hihihi, sapa suruh :P).
Setelah pekan subur itu, aku ingat betul bahwa tak ada 'usaha' dari kami lagi. Kami kembali sibuk masing-masing. Berangkat pagi pulang malam, layaknya pekerja kantoran Jakarta biasanya.

Tanda-tanda Awal
Sekitar awal September, aku sempat terserang flu dan mengalami sedikit radang tenggorokan. Itu pertama kalinya aku berusaha untuk tidak tergantung pada antibiotik untuk mengatasi radangku. Aku hanya makan tomat setiap hari dan ada sedikit obat radang kuminum 2 kali untuk mengatasi peradangannya. Puji Tuhan, ternyata aku bisa bertahan. Aku cukup puas dengan usaha kecil ini karena antibiotik sudah seperti teman kala radang tenggorokan.
Aku tidak tahu apakah ada hubungan antara turunnya staminaku sehingga terserang radang tenggorokan tersebut dengan kehamilan pertamaku tetapi itu memberi sebuah pertanda sendiri buatku. Meskipun aku masih mengkonsumsi obat radang, aku tetap berusaha untuk makan tomat supaya penyembuhan berjalan dengan antibodi tubuhku sendiri. Mungkin satu minggu setelah aku flu, aku sempat tiba-tiba mual dan muntah di kantor. Tersirat pikiran, "Apakah aku hamil?" Tetapi karena terjadi hanya sekali, aku menduga itu hanya masuk angin atau aku telat makan.
Tanggal 9 September 2016 siang, ketika aku di kantor, aku merasa sungguh eneg setelah makan siang. Perasaan mual dan ingin muntah datang kala itu. Tetapi aku masih saja belum percaya bahwa aku mungkin hamil karena datangnya seperti tiba-tiba padahal pagi aku masih segar bugar dan lincah. Dan ternyata tanda-tanda ini kurasakan selama akhir pekan.

Tes Positif
Setelah kejadian mual setelah makan siang itu, selama akhir pekan aku diliputi rasa mual dan beberapa kali muntah. Aku mengeluh pada suamiku bahwa aku masuk angin. Dia yang pertama kali mencoba memberi tahuku bahwa mungkin aku hamil tetapi aku masih tidak percaya. Hampir saja aku memberi sembarang obat karena kukira maghku juga kumat.
Hari minggu tanggal 11 September 2016, tepat sehari sebelum Idul Adha, aku sudah muntah-muntah lebih dari 10 kali dalam sehari. Pagi itu juga setelah ke aktivitas rutin kami ke pasar, kami coba membeli testpack. Dengan sedikit ragu-ragu karena tidak pernah tahu caranya, akhirnya aku mencelupkan stick ke air seni yang telah kutampung di wadah. Aku sedikit tidak percaya karena dua tanda merah yang menjadi tolak ukur kehamilan muncul dengan cepat dan sangat jelas. Aku memanggil suamiku dan dia meyakinkan aku bahwa aku hamil. Di situ aku masih sempat tidak percaya ternyata aku bisa hamil, hihihi.

Comments

Popular posts from this blog

Menjadi Pribadi yang Merdeka Secara Emosional

  Bab buku-buku dan video yang saya renungkan awal pekan ini secara serempak mengarah pada tema "mengampuni dan membebaskan diri dari ikatan emosional". Menjadi pribadi yang merdeka. Inner peace. Mungkin kebetulan, mungkin algoritma. Entahlah. Renungan ini saya bagikan karena dengan berbagi, saya menerima lebih banyak untuk pertumbuhan saya sendiri.   Kita acapkali terjebak dalam dalam ikatan syarat "jika".    Aku bahagia jika anakku bisa bermain musik.  Aku senang jika rumahku rapi dan bersih.  Aku merasa cukup jika gajiku cukup untuk mencukupi kebutuhanku.   Tanpa sadar, jika kondisi di belakang kata "jika" tidak terpenuhi, yang terjadi adalah negasi dari luapan sukacita tadi.   Suamiku tidak mendukungku, aku tidak bahagia. Anakku tidak diterima di PTN terbaik, aku kecewa berat. Dia tidak mengikuti aturan yang sudah kubuat, aku sangat kesal.   Sukacita kita terikat syarat. Ini berdampak pada inner peace kita se...

The World to You

That’s the time when everything turns to yellow… You don’t know where the place you need to go.. The world is cruel… As cruel as hunger tiger… As cruel as 77 years drought... Never let you survive with smile... Often makes you take a revenge.. The world is so cruel... But please, don’t change yourself dear.. You’re so worthwhile... You are priceless.. The world may be cruel.. But you, dear… Never born to be…

First, trust God, the rest is do your best.

Di saat kita putus asa, kita baru lari ke Tuhan dan berusaha mengandalkan Tuhan. Padahal, seharusnya Tuhan diandalkan sejak awal, bukan di saat-saat kita sudah putus asa. Kita sering dengar kutipan, "Do your best, let God do the rest." Aku ingin membalik sedikit, "Trust in God in the first place, the rest is do your best." Jangan mencari-cari Tuhan dan mengandalkan Tuhan di saat-saat akhir, carilah DIA sejak awal dan andalkanlah DIA terus sampai akhir.