Meninggalkan dengan ditinggalkan memang memberi nuansa yang berbeda. Hal ini sempat aku renungkan ketika ibuku meninggalku untuk kembali pulang ke Semarang. Sangat berbeda rasanya jika aku pulang ke Semarang dan kembali ke Jakarta meninggalkan orang tuaku untuk meneruskan perantauan. Tangisku tak henti-henti hari Minggu itu. Senin ketika aku harus kembali bekerja pun, aku masih menyempatkan untuk menangis karena mengingat-ingat sudut-sudut rumah kontrakanku di mana ibuku sering berada. Ibuku yang sedang mencuci, memasak, melipat pakaian, dan sebagainya. Aku masih ingat betul kami tidur bertiga: ibuku, aku, dan suamiku. Lucu kadang membayangkannya tetapi momen seperti ini yang membuatku terharu dan selalu rindu pada ibu.
Flek Ketiga
Hari pertama aku bekerja setelah flek kedua masih terasa berat. Tetapi kedua aku telah merasa lebih semangat. Meskipun masih mual muntah dan berbagai keluhan-keluhan yang aku ungkapkan sebelumnya, tetapi aku relatif bisa menahannya. Aku sempat optimis di hari kedua bahwa aku sudah tidak akan flek lagi dan bisa bekerja seperti biasa. Di samping itu, aku memiliki target sendiri dalam pekerjaanku karena aku harus melanjutkan training untuk posisi baru yang ditawarkan. Itu juga mungkin yang membuatku begitu frustasi sebelumnya. Aku sangat berambisi untuk bisa menyelesaikan semua yang aku harapkan tetapi cara Tuhan sungguh tidak mudah ditebak. Aku masih ingat beberapa hari sebelum tahu bahwa aku hamil, aku menuliskan, "I always fear women with great ambition until one day I saw one of them in the mirror." Ya, jelas sekali aku tahu bahwa aku ingin melakukan yang terbaik dalam hidup dan karirku. Tetapi seketika Tuhan mungkin mendapati aku memiliki kesombongan, Dia selalu punya cara untuk mematahkan semangatku. Hanya itu yang bisa kuungkapkan. Aku kecewa tetapi selalu takjub bahwa aku memang benar milik-Nya. Dialah yang berkuasa atas hidupku.
Begitu larut dalam perenunganku, aku yang optimis di hari ketiga bekerja paska flek keduaku, tidak merasakan kontraksi atau kelelahan lain yang membuat aku lesu. Aku semakin yakin saja bahwa aku akhirnya bisa kuat. Tetapi alangkah semakin terpukulnya aku ketika sekitar pukul 10 pagi di kantor aku mendapati bahwa aku flek lagi. Ya Tuhan! Kali ini pun warnanya merah, bukan lagi coklat. Aku berkali-kali menunggu dan meyakinkan diri bahwa itu bahwa setetes tetapi yang terjadi beberapa tetes sampai aku terpaksa harus memakai tisu sebagai pembalut sementara. Aku kabari suamiku dan kabari ibuku bahwa kali ini aku harus pulang ke Semarang, aku harus ambil unpaid leave. Setelah mereka tahu, aku ijin kepada bosku dan beliau justru ikut membantu dan mengantarkan aku untuk ke rumah sakit.
Kontrol Flek Darah Merah Segar
Awalnya aku enggan periksa ke dokter lagi dan ingin segera pulang untuk periksa di Semarang tetapi bosku memaksaku untuk sekedar cek bahwa aku tidak akan kenapa-kenapa dan janinku baik-baik saja. Aku diantarkan ke rumah sakit terdekat dengan kantor. Di rumah sakit baru ini, aku mendapat dokter yang begitu informatif, yang ternyata adalah dokter rekan kerjaku juga kala dia hamil. Dia menjelaskan jika ada masalah dan jika sesuatu bukan masalah serius, dia berusaha untuk tidak membuat khawatir. Aku sungguh puas dengan pelayanan dokter itu sampai aku mendapati biaya yang harus dikeluarkan adalah sepertiga gajiku. What??? Terang saja, mungkin ada rupa ada harga di Jakarta ini. Untuk mendapatkan sesuatu yang informatif, Anda harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Begitu pikirku.
Dokter mempersilakan aku untuk pulang ke Semarang jika memang flek sudah berhenti. Oia, satu hal yang aku ingat, di rumah sakit ini aku mendapat buku periksa meskipun baru periksa pertama kali. Buku ibu & anakku tertinggal di rumah dan itu pun bukan buku yang aku dapatkan dari rumah sakit pertama. Aku mendapatkan buku itu dari ibuku sendiri yang seorang bidan. Lucu memang ya rumah sakit pertama. Mungkin empat kali aku ke sana tetapi mereka tidak memberi buku kontrol untuk kehamilan.
Bedrest di Semarang
Awalnya suamiku tidak setuju aku pulang ke Semarang karena perjalanan yang menurutnya membahayakan tetapi aku sangat frustasi membayangkan harus berada di kamar selama masa cuti tidak berbayar. Membayangkan setiap hari harus menunggunya pulang kerja malam hari dan tanpa orang lain yang bisa aku temui atau aku ajak bicara. Melihat ketidakbahagiaanku selama ditinggal olehnya kerja, dia akhirnya luluh dan membolehkan aku pulang. Aku pun sebenarnya tidak tega meninggalkan dia sendiri tetapi demi kesehatan mentalku, aku memilih pulang ke rumah ibu bapakku.
Flek Ketiga
Hari pertama aku bekerja setelah flek kedua masih terasa berat. Tetapi kedua aku telah merasa lebih semangat. Meskipun masih mual muntah dan berbagai keluhan-keluhan yang aku ungkapkan sebelumnya, tetapi aku relatif bisa menahannya. Aku sempat optimis di hari kedua bahwa aku sudah tidak akan flek lagi dan bisa bekerja seperti biasa. Di samping itu, aku memiliki target sendiri dalam pekerjaanku karena aku harus melanjutkan training untuk posisi baru yang ditawarkan. Itu juga mungkin yang membuatku begitu frustasi sebelumnya. Aku sangat berambisi untuk bisa menyelesaikan semua yang aku harapkan tetapi cara Tuhan sungguh tidak mudah ditebak. Aku masih ingat beberapa hari sebelum tahu bahwa aku hamil, aku menuliskan, "I always fear women with great ambition until one day I saw one of them in the mirror." Ya, jelas sekali aku tahu bahwa aku ingin melakukan yang terbaik dalam hidup dan karirku. Tetapi seketika Tuhan mungkin mendapati aku memiliki kesombongan, Dia selalu punya cara untuk mematahkan semangatku. Hanya itu yang bisa kuungkapkan. Aku kecewa tetapi selalu takjub bahwa aku memang benar milik-Nya. Dialah yang berkuasa atas hidupku.
Begitu larut dalam perenunganku, aku yang optimis di hari ketiga bekerja paska flek keduaku, tidak merasakan kontraksi atau kelelahan lain yang membuat aku lesu. Aku semakin yakin saja bahwa aku akhirnya bisa kuat. Tetapi alangkah semakin terpukulnya aku ketika sekitar pukul 10 pagi di kantor aku mendapati bahwa aku flek lagi. Ya Tuhan! Kali ini pun warnanya merah, bukan lagi coklat. Aku berkali-kali menunggu dan meyakinkan diri bahwa itu bahwa setetes tetapi yang terjadi beberapa tetes sampai aku terpaksa harus memakai tisu sebagai pembalut sementara. Aku kabari suamiku dan kabari ibuku bahwa kali ini aku harus pulang ke Semarang, aku harus ambil unpaid leave. Setelah mereka tahu, aku ijin kepada bosku dan beliau justru ikut membantu dan mengantarkan aku untuk ke rumah sakit.
Kontrol Flek Darah Merah Segar
Awalnya aku enggan periksa ke dokter lagi dan ingin segera pulang untuk periksa di Semarang tetapi bosku memaksaku untuk sekedar cek bahwa aku tidak akan kenapa-kenapa dan janinku baik-baik saja. Aku diantarkan ke rumah sakit terdekat dengan kantor. Di rumah sakit baru ini, aku mendapat dokter yang begitu informatif, yang ternyata adalah dokter rekan kerjaku juga kala dia hamil. Dia menjelaskan jika ada masalah dan jika sesuatu bukan masalah serius, dia berusaha untuk tidak membuat khawatir. Aku sungguh puas dengan pelayanan dokter itu sampai aku mendapati biaya yang harus dikeluarkan adalah sepertiga gajiku. What??? Terang saja, mungkin ada rupa ada harga di Jakarta ini. Untuk mendapatkan sesuatu yang informatif, Anda harus merogoh kocek lebih dalam lagi. Begitu pikirku.
Dokter mempersilakan aku untuk pulang ke Semarang jika memang flek sudah berhenti. Oia, satu hal yang aku ingat, di rumah sakit ini aku mendapat buku periksa meskipun baru periksa pertama kali. Buku ibu & anakku tertinggal di rumah dan itu pun bukan buku yang aku dapatkan dari rumah sakit pertama. Aku mendapatkan buku itu dari ibuku sendiri yang seorang bidan. Lucu memang ya rumah sakit pertama. Mungkin empat kali aku ke sana tetapi mereka tidak memberi buku kontrol untuk kehamilan.
Bedrest di Semarang
Awalnya suamiku tidak setuju aku pulang ke Semarang karena perjalanan yang menurutnya membahayakan tetapi aku sangat frustasi membayangkan harus berada di kamar selama masa cuti tidak berbayar. Membayangkan setiap hari harus menunggunya pulang kerja malam hari dan tanpa orang lain yang bisa aku temui atau aku ajak bicara. Melihat ketidakbahagiaanku selama ditinggal olehnya kerja, dia akhirnya luluh dan membolehkan aku pulang. Aku pun sebenarnya tidak tega meninggalkan dia sendiri tetapi demi kesehatan mentalku, aku memilih pulang ke rumah ibu bapakku.
Comments
Post a Comment