Skip to main content

Administrasi Perkawinan Katolik: Kanonik

Hi! Akhirnya saya sudah melalui penyelidikan kanonik tepat 2 hari lalu sebelum saya menulis ini. Semenjak saya melengkapi berkas-berkas yang diperlukan hingga terjadi pemanggilan "sidang" tersebut, saya harus menunggu sekitar 4 minggu hingga akhirnya ada jadwal. Seperti sudah saya jelaskan sebelumnya, saya mendaftar warga paroki baru ke gereja yang dekat dengan domisili saya saat ini. Sehingga saya dan pacar harus melakukan kanonik di sini.
Berkas-berkas kanonik yang harus saya kumpulkan antara lain:
a. Foto Gandeng (selalu siapkan beberapa)
b. Surat Pembaharuan Babtis yang masih berlaku 6 bulan (asli)
c. Fotokopi Sertifikat KPP
d. Surat Pengantar Ketua Lingkungan

Silakan  melihat pos saya sebelumnya Administrasi Perkawinan Katolik: KPP 
untuk informasi cara mendapatkan berkas-berkas tersebut.

Nah, kembali pada proses kanonik saya. Selama masa menunggu jadwal, saya sering merasa khawatir karena saya merencanakan menikah Desember dan sudah menginjak pertengahan bulan Oktober tetapi belum ada kabar kanonik. 

Usaha saya tidak kurang-kurang, karena dalam satu minggu saya rajin kroscek ke sekretariat untuk menanyakan jadwal, meskipun mbak-mbak sekre sudah mengatakan, "Nanti kalau sudah ada, kami hubungi."
Sekitar minggu ketiga saya diberi tahu kalau Pastor Paroki sedang sangat sibuk dan nanti kanonik akan dengan Pastor Pembantu. Mendengar ini saya sedikit lega karena memang Pastor Paroki sepertinya super sibuk sehingga daripada nasib saya terkatung-katung, maka diserahkanlah penyelidikan kanonik ke Pastor Pembantu.
Di minggu keempat akhirnya saya mendapat kepastian jadwal kanonik, 21 Oktober 2015.

Saat tiba hari H, dengan membawa berkas-berkas kanonik, saya menghadap Pastor bersama pacar dan menjalani penyelidikan kanonik. Saya sudah membayangkan banyak pertanyaan dan merasa gugup beberapa menit sebelum "sidang".
Ternyata proses kanonik yang kami jalani tidak semenegangkan yang saya bayangkan. Kami diselidiki oleh Pastor yang ternyata adalah mantan dosen di salah satu fakultas almamater kami. Beliau banyak memberi masukan terutama tentang bagaimana nanti mendidik anak. Sisanya kami tidak dikorek secara detail tentang kekurangan-kelebihan, ekonomi, seksual, dll. 
Di sini saya bersyukur karena Tuhan selalu mempertemukan dengan orang-orang yang tepat dengan karakter kita. Dan bertemu dalam sidang kanonik dengan Pastor ini merupakan anugerah tersendiri dengan saya. Tidak jarang di sela-sela sidang, banyak celotehan-celotehan lucu dari Pastor.

Kami menjalani kanonik sekitar 2 jam. Dan setelah itu berkas ditinggal di sekretariat.
Saat ini saya dan pacar sedang menunggu pengumuman perkawinan selama 3 minggu sebelum nanti berkas kami cabut untuk dibawa ke paroki tempat kami akan menikah.

Cheers,


 


Comments

Popular posts from this blog

Menjadi Pribadi yang Merdeka Secara Emosional

  Bab buku-buku dan video yang saya renungkan awal pekan ini secara serempak mengarah pada tema "mengampuni dan membebaskan diri dari ikatan emosional". Menjadi pribadi yang merdeka. Inner peace. Mungkin kebetulan, mungkin algoritma. Entahlah. Renungan ini saya bagikan karena dengan berbagi, saya menerima lebih banyak untuk pertumbuhan saya sendiri.   Kita acapkali terjebak dalam dalam ikatan syarat "jika".    Aku bahagia jika anakku bisa bermain musik.  Aku senang jika rumahku rapi dan bersih.  Aku merasa cukup jika gajiku cukup untuk mencukupi kebutuhanku.   Tanpa sadar, jika kondisi di belakang kata "jika" tidak terpenuhi, yang terjadi adalah negasi dari luapan sukacita tadi.   Suamiku tidak mendukungku, aku tidak bahagia. Anakku tidak diterima di PTN terbaik, aku kecewa berat. Dia tidak mengikuti aturan yang sudah kubuat, aku sangat kesal.   Sukacita kita terikat syarat. Ini berdampak pada inner peace kita se...

The World to You

That’s the time when everything turns to yellow… You don’t know where the place you need to go.. The world is cruel… As cruel as hunger tiger… As cruel as 77 years drought... Never let you survive with smile... Often makes you take a revenge.. The world is so cruel... But please, don’t change yourself dear.. You’re so worthwhile... You are priceless.. The world may be cruel.. But you, dear… Never born to be…

First, trust God, the rest is do your best.

Di saat kita putus asa, kita baru lari ke Tuhan dan berusaha mengandalkan Tuhan. Padahal, seharusnya Tuhan diandalkan sejak awal, bukan di saat-saat kita sudah putus asa. Kita sering dengar kutipan, "Do your best, let God do the rest." Aku ingin membalik sedikit, "Trust in God in the first place, the rest is do your best." Jangan mencari-cari Tuhan dan mengandalkan Tuhan di saat-saat akhir, carilah DIA sejak awal dan andalkanlah DIA terus sampai akhir.